
Novel : Vietnam Rose Ketinggalan Perahu 2
Oleh : Utara S
BAB 2
TERLELAP DENGAN TUBUH DAN PIKIRAN YANG LELAH
Tanjungpinang, 10 Desember 2008, Pukul 15.20 WIB
Akhirnya sampai juga kapal fery yang membawaku dari Singapura ke Bintan di Pelabuhan Sri Bintan Tanjungpinang. Dari pelabuhan aku langsung menuju rumah Leo yang hanya 10 menit dari pelabuhan. Leo ini teman baikku sejak SMA. Dia seorang fotografer profesional, ia sudah mengenal Fotografi sejak kecil karena bapaknya memang seorang fotografer dan punya stodio foto di Tanjungpinang ini. Dan sahabatku inilah yang banyak mengajariku tentang dunia fotografri lima bulan terakhir ini.
Leo mengambilkan teh botol dan gelas begitu aku sampai. Aku langsung menenggak teh botol itu dari botolnya dan menghabiskan saat itu juga.
“Leo… minta satu lagi teh botolnya. Aku haus sekali” pintaku.
Leo mengambil sebotol lagi.
“Di Batam kamu ngapain aja, Tam?”
“He..he..he.. aku lihat tabunganku mulai menipis, aku cari tambahan dulu”
“Berjudi maksudmu?”
“Lumayan… aku menang 20 juta”
“Wah… kalau untuk yang satu itu, kamu memang sangat berbakat,”
“Ya… cara itu memang paling cepat untuk mendapatkan uang banyak” balasku dengan senyum bangga.
“Tapi Tam, kamu tidak berpikir kalau suatu hari nanti kebiasaanmu itu membawa masalah dibelakang hari?” tanya Leo serius.
“Aku kan berjudi bukan karena hoby, cuma kalau lagi butuh uang aja” ujarku sambil menenggak lagi teh botoh.
“Disitulah letak masalahnya. Orang lain berjudi karena hoby sementara kamu hanya mencari untung. Lawanmu habis-habisan, kamu setengah hati. Kalau lagi bermain bagus kamu main terus-terusan tetapi ketika bermain jelek kamu berhenti. Jelas cara berjudimu itu membuat sakit hati orang. Kamu kan pernah dikeroyok orang gara-gara cara bermain seperti itu”
“Tenang aja Leo. Aku tahu apa yang aku lakukan,” jawabku enteng sambil menenggak teh botol.
“Tapi lawan judimu sekarang banyak dari kalangan Mafia. Silatmu tidak akan mungkin bisa mengalahkan kecepatan peluru,” ujar Leo serius.
Aku yang lagi menenggak minuman botolku langsung diam terpaku tanpa melepas teh botolku dari mulutku. Terus terang, aku merasa seram mendengarnya.
“Sebaiknya kamu berhenti berjudi. Memang sih, kamu jadi ketergantungan dengan orang tuamu untuk memenuhi kebutuhanmu. Kamu ambil alih aja bengkel motormu lagi, sebagai tambahan pemasukan keuanganmu,” ujar Leo.
“Terima kasih, Leo,” balasku tersenyum.
“Mana hasil jepretanmu?”
Aku segera memberikan hasil jepretanku seminggu ini. Leo memperhatikan dengan seksama hasil jepretanku. Aku lihat dia terlihat cukup puas dengan hasil jepretanku.
“Kamu ke Singapura juga ya?”
“Ya. Aku memang sudah merencanakan kesana menjepret sudut-sudut kota Singapura,”
“Berapa hari kamu di Singapura?”
“Empat hari”
“Wah. Tidak sia-sia aku mengajarimu,”
“Terima kasih banyak, Leo. Sudah mau berbagi ilmu denganku”
“Ya. Tetapi sebaiknya tingkatkan terus skillmu”
“Oh itu pasti”
“Gadis Cina ini siapa, Tam?” tanya Leo ketika melihat photo seorang gadis di beberapa photo hasil jepretan kameraku.
“Oh.. dia temanku. Tapi dia bukan gadis Cina karena ibunya orang Vietnam. Selama di Singapura aku menumpang di apartemennya,”
“Wah, kok mau dia memberi tumpangan?”
“Katanya aku pria baik-baik. Ha..ha..ha..” kataku tertawa lebar.
“Dia tinggal sendiri”
“Ya. Bisa dibilang sudah sebatangkara,”
“Dia tidak ada hati padamu kan?” tanya Leo penasaran.
“Kenapa kamu berpikir seperti itu?”
“Coba kamu perhatikan tatapannya terutama ketika dia tersenyum. Jelas sekali dia terlihat sangat bahagia di photo. Menurutku, dia senang denganmu, Tam,”
“Ah, aku tidak memperhatikan sejauh itu” jawabku datar. “Udah ah… udah sore. Aku mau pulang” kataku sambil mengambil photoku kembali.
Leo mengantarkanku sampai di depan pintu rumahnya. Lalu aku pun pulang dengan mobil Taftku yang aku parkir dirumah temanku ini selama aku pergi. Rumahku sendiri berada di kampung Rakit, sekitar dua jam dari kota Tanjungpinang. Kampungku termasuk perkampungan terpencil yang masuk wilayah Bintan Utara.
Kalau hendak ke rumahku semakin jauh ke dalam maka semakin sepi kendaraan yang berhalu lalang. Jalanan sepi inilah yang membuat aku dari remaja terbiasa mengebut ketika berkendaraan. Tetapi kali ini aku mamacu mobilku dengan kecepatan sedang karena ingin menikmati keindahan alam sepanjang perjalanan.
Hembusan lembut angin laut ini membuat aku terbuai rasa kantuk. Karena mataku sudah sangat berat, aku terpaksa berhenti sejenak. Aku tidak ingin terjadi seperti waktu yang lalu, mengalami kecelakaan akibat mengantuk saat berkendaraan. Aku pergi ke pantai mencuci wajahku dengan air laut. Untuk beberapa saat aku menikmati kesejukan air laut yang jernih sehingga apa yang ada di dalam air dapat terlihat dengan jelas. Aku mengambil bintang laut di dekat kakiku dan melihat dengan saksama.
Ternyata laut dan pantaiku sampai saat ini belum banyak berubah. Sungguh berbeda dengan pantai-pantai dan laut yang ada di wilayah Batam atau Tanjung Balai Karimun. Benar-benar sudah rusak parah akibat penambangan pasir laut. Penambangan pasir laut itu memang sangat merusak. Tidak saja keindahan laut tetapi juga merusak ekosistem biota laut.
Gara-gara penambangan pasir laut, nelayang sangat sengsara. Gimana tidak sengsara, hasil tangkapan mereka turun drastis akibat air laut yang keruh. Tapi syukurlah penambangan itu sudah dilarang dan masyarakat di sini juga tidak setuju dengan penambangan pasir.
Setelah aku belajar fotografi aku baru menyadari bahwa pulau Bintanku ini ternyata sangat indah. Sepanjang jalan menuju rumahku di sisi sebelah kanannya terhampar luas laut dengan air yang bewarna-warni. Ada yang kebiru-biruan, kehijau-hijauan atau bening. Tidak hanya itu ada pulau-pulau kecil yang sangat eksotik yang berjarak hanya beberapa kilometer dari pantai. Sementara disisi kirinya masih banyak terdapat hutan-hutan yang masih asri atau pohon-pohon kelapa. Setelah rasa kantuk ini hilang, aku melanjutkan perjalanan.
Akhirnya aku sampai juga dirumahku. Rumahku masih rumah panggung yang terbuat dari kayu merbau, sebuah kayu yang tidak bisa dimakan rayap. Rumahku juga berada di tengah-tengah ribuan hektar pohon kelapa dan hanya berjarak seratus meter dari tepi laut. Halaman disekeliling rumahku cukup luas dan banyak terdapat berbagai bunga yang ditanam dan dirawat adikku.
Rumah sederhanaku ini terdiri dari enam kamar tidur, satu ruang tengah yang tergabung dengan ruang makan dengan satu dapur dan satu kamar mandi. Perabotan kami tidak ada yang terlalu mewah, paling hanya TV 29 inchi.
“Akhirnya… selesai juga makan malam kami,” gumam adikku.
Adikku ini namanya Sarah Aafiyah, umurnya 20 tahun lebih, tinggi 164 cm, kulitnya putih dengan rambut sebahu dan tentu saja ia gadis cantik dan manis, makanya banyak yang suka padanya. Tapi aku sempat khawatir dengan adikku ini, menyangka lesbian karena sampai sekarang belum pernah jatuh cinta apalagi berpacaran, alasannya sih tidak ada yang disukainya. Tapi syukurlah dia juga tidak suka pada wanita, teman sesama perempuannya memang banyak tetapi yang benar-benar akrab dan sangat dekat hanya sepupuku dan si Bintan.
Anaknya agak manjaan terutama pada abangku dan orang tuaku, ya mungkin karena anak bungsu. Tapi adikku ini termasuk anak yang rajin dan pinter. Kalau aku memang tidak pernah nyuci pakaianku tetapi adikku ia mencuci sendiri pakaiannya meski ada pembantu. Memasak, bersih-bersih rumah, merawat bunga, berhias, membaca adalah kesehariannya.
Sebenarnya orang tuaku menyuruhnya kuliah ke Jakarta atau ke Malaysia tetapi ia tidak mau, katanya ia tidak ingin jauh-jauh dari kami. Adikku juga ingin meneruskan usaha emak kami yang di rintis dari nol. Itu sebabnya sejak lulus SMA kesehariannya banyak bersama emakku agar bisa belajar langsung pada emakku. Meski tidak kuliah ia mengikuti banyak kursus seperti kursus bahasa Inggris dan Cina, kursus menjahit, memasak dan latihan merias.
Hubunganku dengan adikku tidak begitu dekat. Kami jarang sekali mengobrol apalagi sejak kecil aku lebih senang dan banyak main bersama temanku. Satu hal yang aku tidak suka atau yang jelek darinya. Kalau sudah marah, benar-benar ditunjukkan ke orangnya langsung. Kalau menyindir atau menghina, kasarnya bukan main. Sifat adikku memang lebih dekat ke emakku.
“Pasti bapakku sangat senang dengan masakanku ini,” ujarnya tersenyum sumringah karena merasa senang melihat hasil kerjanya.
Begitu mendengar suara mobilku, ia segera melihat keluar. Wajahnya berubah cemberut begitu mengetahui aku pulang.
“Kenapa tidak pulang aja sekalian si Badung itu,” ujarnya dongkol. Enam bulan terakhir ini adikku memang jadi sangat berani dan semakin kurang ajar padaku sejak si Bintan jatuh cinta padaku.
Aku memarkirkan mobilku di bawah pohon sawoku yang sangat besar dan rindang, sekitar dua puluh meter dari rumahku. Saat memasuki rumah, Aku tidak terlalu mau ambil pusing dengan wajah cemberut adikku. Setelah menaruh barang-barang bawaan di kamar, aku keluar lagi dan langsung saja ke meja makan dan memakan apa yang ada di meja dengan lahap.
Kontan saja wajah adikku semakin cemberut dan terus melihatku makan. Tapi lama-lama aku merasa risih juga diawasi terus.
“Kamu kenapa Sarah? belum makan?” tanyaku.
“Bang, makanan ini semua aku yang masak, dan aku masak bukan untukmu!” sergahnya sangat kesal.
Jengkel juga sih mendengarnya, tapi apa boleh buat. Bagaimana pun juga yang memasak ini memang dia.
“Oo.. pantes aja. Agak kurang enak nih.. Ya udah, besok kalau masakanmu tidak ingin dimakan jangan diletakkan di sini, tapi simpan di kamarmu,” jawabku enteng. Sengaja, biar telinganya terasa panas.
“Enaknya benar jawabmu. Terserah aku mau meletakkan masakanku dimana. Abang yang seharusnya tahu diri kalau Sarah itu tidak sudi masakanku dimakan orang sepertimu! Orang tidak punya perasaan dan tidak punya malu!”
Telingaku serasa terbakar mendengarnya. Aku langsung menatap tajam adikku tapi nih bocah sama sekali tidak takut denganku.
“Kamu ini semakin kurang ajar aja, Sarah. Apa kamu sudah tidak menganggap aku ini bukan abangmu lagi?” tanyaku dengan nada tinggi.
“Bagaimana denganmu? Apakah kamu juga menganggap Bang Aziz itu masih Abang kita?”
“Bisa tidak, kamu itu tidak mengungkit-ungkit masalah itu?” ucapku jengkel. Aku sudah mauk dan paling malas kalau udah mengungkit-ungkit masalah si Bintan yang jatuh cinta padaku.
“Kenapa?. Malu? Kalau tidak mau diungkit, kembalikan Kak Bintan pada Bang Aziz atau jangan tinggal di rumah ini lagi!” kata adik tidak kalah tinggi nadanya.
Aku menghentikan makanku dan memilih diam. Percuma meladeni anak manja ini. Setelah mencuci tangan dan minum, aku beranjak ke kamar mandi. Belum berjalan beberapa langkah, Adikku melemparkan piring dan gelas bekas minumku ke lantai. Mukaku langsung merah padam. Bingung juga menghadapi anak manja ini. Tapi sudalah, bagaimana pun juga ini semua karena kesalahanku meski sikapnya ini sudah sangat ketarlaluan.
“Jangan pernah ulangin lagi Sarah. Kamu sendiri nanti yang rugi,” kataku kali ini sangat serius.
“Bodo!” balasnya tanpa rasa takut.
Aku pun berlalu. Selesai mandi aku melihat adikku sedang membersihkan pecahan piring dan kaca yang dibuangnya tadi. Terbukti kan ucapanku. Dia sendiri yang repot. Aku buru-buru buang muka ketika ia memandangku. Tidak tega aku tersenyum kemenangan padanya. Takutnya dia tambah marah.
Setelah berganti pakaian, aku memeriksa laptopnya. Aku teringat dengan DVD film terbaru Donnie Yen yang belum lama aku beli. Aku pun memutar filmnya di laptopku. Dari begitu banyak aktor laga Hongkong, Donnie Yen adalah idolaku. Aku suka melihat caranya bertarung dan berkelahi, kuat, tangguh, cepat, gesit dan tentu saja tahan pukul. Kadang aku menghayal bisa bertemu dengannya meski itu hanya dalam mimpi. Baru 15 menit menonton, aku sudah merasa terganggu.
“Tok..tok..tok” pintu kamarku diketuk.
“Siapa?” tanyaku.
“Ini aku,” jawab seorang pria dari luar kamar.
Aku langsung menghentikan film dan mematikan laptopku begitu tahu siapa yang mengetuk.
“Ada apa, Bang?”
“Bapak lagi menunggu kita di Pinang. Ada banyak TKI yang datang malam ini. Kamu disuruh ikut membantu,”
Sialan. Udah dari dulu aku tidak pernah mau mengurusi urusan TKI tapi tetap aja disuruh mengurusi urusan ini.
“Si Ari kemana, bang?” tanyaku sambil menutup laptopku.
“Ini perintah Bapak, Batam.”
“Malaslah, Bang. Aku baru pulang dari Batam. Aku lelah!. Abang ajak aja yang lain”
“Bisa dibuka pintu ini sebentar?”
Aku menggeser laptop ke sudut meja agar abangku tidak tahu aku sedang bermain laptop. Begitu pintu aku buka, berdiri sorang pria bertinggi 175 cm, berkulit kuning langsat, dengan mata agak sedikit sipit dan tampan orangnya. Ia abangku, namanya Aziz Ramadhan, biasa dipanggil Aziz. Orangnya penurut dan patuh pada orang tua, rajin, pinter, jarang marah, murah senyum dan suka menolong, tidak banyak bicara.
Tapi abangku termasuk tertutup orangnya, kadang agak susah mengetahui dia sedang marah atau tidak, setuju atau tidak. Sikap abangku juga semakin hari semakin tidak enak aku rasakan sejak Bintan meninggalkannya. Tatapannya terhadapku selalu memancarkan rasa kekecewaan yang sangat dalam.
“Kamu bicara aja sendiri dengan Bapak,” kata abangku dengan menyodorkan HPnya.
Tapi Aku sama sekali tidak menoleh ke arahnya.
“Tidak perlu, Bang. Abang bilang saja aku tidak mau,”
“Kamu tidak bosan dimarahin terus?”
“Sudalah, Bang. Pergi aja dengan yang lain,”
“Terserah kamulah.”
Aku segera menutup kembali pintu kamar dan merebahkan tubuhku di tempat tidur. Dengan melihat langit-langit rumahku, aku memikirkan ulang tentang apa saja yang sudah terjadi dalam hidupku selama ini. Bertanya-tanya pada diriku mengapa aku selalu menimbulkan masalah. Aku hanya bisa menghela nafas.
“Mau sampai kapan aku terus seperti ini,” keluhku muram. “Ah, terseralah… Yang terjadi…terjadilah. yang penting, aku tidak pernah lari dari masalah,”
Aku bangun dari pembaringan mengambil hasil pemotretanku. Aku mencoba melupakan semua masalahku dengan melihat-lihat hasil pemotretanku selama di Batam dan Singapura. Aku perhatikan dengan seksama satu persatu termasuk photo gadis Singapura kenalanku ini.
Tanpa aku sadari lelah tubuhku dan lelah pikiranku membawaku tertidur dengan lelapnya.













D sambung ya..