Novel : Kalau Memang Harus Begitu 4
Oleh : Acik Lana Bab 4 Adara tidak habis-habis merungut sambil tangannya masih ligat mengelap dan menyental tingkap kaca yang lebar dan besar itu. Tingkap itu membawa pandangannya jauh ke arah bangunan-bangunan pencakar langit yang berada di sekeliling bangunan tempat dia bekerja ini. Pemandangan dari tingkap 19 ini memang cantik dan dia suka melihat kesibukan kota yang tidak pernah dia lihat sebelum... [Teruskan bacaan]
Novel : Kalau Memang Harus Begitu 4
Oleh : Acik Lana Bab 4 Adara tidak habis-habis merungut sambil tangannya masih ligat mengelap dan menyental tingkap kaca yang lebar dan besar itu. Tingkap itu membawa pandangannya jauh ke arah bangunan-bangunan pencakar langit yang berada di sekeliling bangunan tempat dia bekerja ini. Pemandangan dari tingkap 19 ini memang cantik dan dia suka melihat kesibukan kota yang tidak pernah dia lihat sebelum... [Teruskan bacaan]
Novel : Kalau Memang Harus Begitu 3
13 April 2011
Kategori: Novel
543 bacaan Catat Ulasan
Oleh : Acik Lana Bab 3 Putra mengangkat kepala saat terpandangkan sesusuk tubuh berdiri di muka pintu bilik bacaannya. Terpandangkan wajah serius itu, Putra segera mengalihkan pandangannya ke dada laptop yang sejak tadi dihadapnya. Dia sedang menyiapkan kertas kerja untuk pembentangan belanjawan syarikat mereka dan semuanya perlu diudahkan sebelum mesyuarat yang akan diadakan pada hari Rabu nanti. “Putra,... [Teruskan bacaan]
Novel : Kalau Memang Harus Begitu 2
Oleh : Acik Lana Bab 2 Husna terkocoh-kocoh masuk ke dalam pantry ketika waktu makan tengahari. Dia mengeluh lega saat terpandangkan Adara yang duduk di meja bersama Kak Wati. Elok pulak bersembang macam tak ada apa-apa yang berlaku. “Weh makcik, kau buat apa tadi?” Husna menampar lengan Adara dan gadis itu mengaduh sakit. “Kau ni kenapa? Aduhai, habislah aku kena maki dengan Tuan... [Teruskan bacaan]
Novel : Kalau Memang Harus Begitu 1
Oleh : Acik Lana Bab 1 Langkahnya dilajukan untuk menyaingi langkah gadis kecil molek di sisinya. Sekali sekala Adara menarik sedikit kain kurung cotton berwarna putih bercorak bunga-bunga kecil berwarna biru yang sudah sedikit pudar warnanya agar langkah dapat diatur lebih luas lagi. Kini mereka sudah berada di lobby bangunan 25 tingkat yang indah seperti di dalam hotel. Tidak sempat Adara menghayati... [Teruskan bacaan]







