Cerpen : Segunung impian ayah
Oleh : Permata Nilam Aku menatap tubuh melidi ayah tanpa pakaian yang tersandar lesu pada bilah-bilah buluh yang sudah usang dengan seribu macam perasaan. Sedih, pilu, duka dan simpati bercampur baur menjadi satu menghuni hatiku. Dari simbahan cahaya pelita tanah yang sekejap meliuk ke kiri sekejap ke kanan dek sapaan hembusan pawana malam yang menerobosi celah-celah dinding dan lantai buluh pondok... [Teruskan bacaan]







