Cerpen : Untuk Perempuan-Perempuan Yang Pernah Aku Cintai
Oleh : dingin Di hadapan pintu Waktu itu, saya sedang berdiri di hadapan sebuah rumah yang sepi. Perasaan saya pada ketika itu membuncah, lalu menjadi riak-riak resah pada wajah. Saya segera mendapati, keberanian saya terpojok pada sudut hati yang paling dalam. Dengan ekor mata, saya memandang ke kiri dan ke kanan, dan semuanya kosong. Saya teliti lagi baik-baik, dan tetap juga ia kosong. Namun itu... [Teruskan bacaan]







